Saya belajar membaca dari ini Budi


Masih ingatkah sampul buku tersebut? Kalau saudara SDnya angkatan 70-80an pastilah ingat dengan buku ini. Dulu buku ini begitu fenomenal, begitu melihat sampulnya saja sudah langsung terbayang isinya, Ini Budi, ini Ibu Budi, dan perkenalan anggota keluarga Budi lainnya… hehe. Tak heran kalau nama Budi pada jaman itu begitu terkenal.

Mudah-mudahan gambar jadul ini bisa kembali mengingatkan masa lalu kita, kita bisa membayangkan kembali wajah guru-guru kita. Mereka yang telah mengajari kita membaca dengan penuh kesabaran. Berkat merekalah kita bisa menjadi seperti sekarang ini. Mudah-mudahan kita bisa tetap mengenang jasa-jasa mereka.

Lihat sampul buku jadul lainnya

Iklan
Dipublikasi di Cerita | Tag | 2 Komentar

Big Bang dan Perluasan Alam Semesta

Pada abad ke-20, terjadi lompatan besar di bidang astronomi. Pertama, pada tahun 1922, seorang ahli fisika Rusia, Alexandre Friedmann, menemukan bahwa alam semesta tidak memiliki struktur yang statis. Berpijak pada Teori Relativitas Einstein, Friedmann menghitung bahwa sebuah impuls kecil saja dapat mengakibatkan alam semesta meluas atau mengerut. Georges Lemaître, salah seorang ahli astro-nomi terkenal Belgia, adalah yang pertama kali menyadari pentingnya hitungan ini. Hitungan ini membawanya pada kesimpulan bahwa alam semesta memiliki awal dan terus-menerus meluas sejak permulaan. Ada hal penting lainnya yang diangkat Lemaître: menurutnya, seharusnya ada kelebihan radiasi yang tertinggal dari Big Bang dan ini dapat dilacak. Lemaître yakin bahwa penjelasannya benar walaupun pada awalnya tidak mendapat banyak dukungan dari kalangan ilmuwan. Sementara itu, bukti lebih lanjut bahwa alam semesta meluas mulai bermunculan. Pada waktu itu, Edwin Hubble, seorang ahli astronomi dari Amerika, yang mengamati bintang-bintang dengan teleskop raksasanya, menemu-kan bahwa bintang-bintang memancarkan cahaya geser merah (red shift) tergantung jarak mereka. Dengan temuan ini, yang diperolehnya di Observatorium Mount Wilson, California, Hubble menantang seluruh ilmuwan yang mengajukan dan membela teori “keadaan-tetap” (steady-state), dan mengguncangkan pondasi model alam semesta yang dianut saat itu.

Baca selengkapnya

Dipublikasi di Artikel Fisika | Tag , | Meninggalkan komentar

Apa yang dimaksud dengan laser ?

Laser adalah suatu divais yang memancarkan gelombang elektromagnetik melewati suatu proses yang dinamakan emisi spontan. Istilah laser merupakan singkatan dari amplification by stimulated emission of radiation. Berkas laser umumnya sangat koheren, yang mengandung arti bahwa cahaya yang dipancarkan tidak menyebar dan rentang frekuensinya sempit (monochromatic light). Laser merupakan bagian khusus dari sumber cahaya. Sebagian besar sumber cahaya, emisinya tidak koheren, spektrum frekuensinya lebar, dan phasenya bervariasi terhadap waktu dan posisi. Daerah kerja divais laser tidak terbatas pada spektrum cahaya tampak saja tetapi dapat bekerja pada daerah frekuensi yang luas, Oleh karena itu, divais tersebut dapat berupa laser infa red, laser ultra violet, laser X-ray, atau laser visible.

Laser dikatakan baik jika frekuensi atau panjang gelombang yang dipancarkannya bersifat tunggal. Daya laser dapat dibuat bervariasi dari mulai nano watt untuk laser kontinyu sampai triliunan watt untuk laser pulsa. Laser merupakan komponen utama pada sistem komunikasi modern saat ini. Selain itu, laser juga dimanfaatkan sebagai probe untuk pembacaan data CD atau DVD, sebagai sumber cahaya pada alat pembaca barcode, alat bantu navigasi pada bidang militer, alat bantu operasi pada bidang kedokteran, dan masih banyak lagi aplikasi lainnya.

Secara umum suatu divais laser terdiri dari media penguat berkas cahaya (gain medium), sumber energi pemompa (pumping source), dan resonator optik (optical resonator). Media penguat adalah suatu bahan yang mempunyai sifat dapat meningkatkan intensitas cahaya dengan cara emisi terstimulasi. Sedangkan resonator optic, secara sederhana terdiri dari susunan cermin yang dipasang berhadapan sehingga berkas cahaya dapat bergerak bolak-balik. Salah satu cermin bersifat agak transparan, sehingga dapat berfungsi sebagai jalur keluar berkas laser (output coupler). Berkas cahaya yang melewati media penguat akan mengalami penguatan daya. Jika daerah sekelilingnya merupakan cermin, maka cahaya akan bergerak bolak-balik dan melewati media penguat berkali-kali. Dengan demikian cahaya akan mengalami penguatan daya beberapa kali lipat. Setelah mengalami penguatan daya, cahaya dapat keluar melewati cermin yang bersifat agak transparan sebagai berkas laser.

Proses memasukkan energi sebagai syarat untuk terjadinya penguatan daya dinamakan dengan pumping (memompa). Energi yang dipompakan dapat berupa arus listrik atau berkas cahaya dengan panjang gelombang yang berbeda. Untuk pompa energi dalam bentuk cahaya, dapat digunakan lampu flash atau laser semikonduktor. Selain komponen-komponen utama di atas, suatu perangkat laser biasanya dilengkapi dengan beberapa komponen pendukung untuk menghasilkan berkas laser yang tajam.

Bahan media penguat dapat berupa gas, cairan, padatan, atau plasma. Media penguat menyerap energi yang dipompakan dan mengakibatkan sejumlah elektron tereksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi. Partikel dapat berinteraksi dengan cahaya melalui cara mengabsorpsi atau mengemisikan foton. Emisi cahaya dapat terjadi secara spontan atau dengan cara stimulasi. Ketika jumlah elektron pada suatu tingkat eksitasi melebihi jumlah elektron pada tingkat energi di bawahnya, maka populasi inversi telah terjadi. Hal tersebut dapat mengakibatkan terjadinya emisi terstimulasi yang jumlahnya lebih besar daripada yang diabsorpsi. Dengan demikian cahaya mengalami penguatan. Jika media penguat ini ditempatkan di dalam resonator optik, maka penguatan cahaya dapat terjadi berkali-kali dan selanjutnya menghasilkan berkas laser.

Kavitas optik merupakan salah satu bentuk dari resonator. Kavitas mengandung berkas koheren yang dilingkupi oleh permukaan bersifat reflektif yang memungkinkan berkas cahaya tersebut bergerak bolak-balik melewati media penguat. Cahaya yang bergerak bolak-balik di dalam kavitas dapat mengalami kehilangan daya (loss) yang disebabkan oleh absorpsi atau difraksi. Jika penguatan di dalam media tersebut lebih besar dibandingkan dengan kehilangan daya dalam resonator, maka daya laser akan naik secara eksponensial. Pada setiap kejadian emisi terstimulasi, sejumlah partikel akan berpindah dari tingkat energi tereksitasi ke keadaan dasar, hal ini akan mengurangi kapasitas media penguat. Untuk mengembalikannya ke kondisi terstimulasi, harus dipompa kembali dengan energi tertentu. Besarnya energi yang dipompakan harus mempertimbangkan batas ambang dari media penguat dan kehilangan daya di dalam kavitas. Jika daya yang dipompakan terlalu kecil, maka emisi yang dihasilkan tidak akan cukup untuk mengimbangi kehilangan daya akibat absorpsi di dalam kavitas. Sebaliknya jika energi yang dipompakan terlalu besar, maka akan mempercepat degradasi media penguat sehingga memperpendek usia penggunaannya. Oleh karena itu, diperlukan optimasi batas minium energi yang dipompakan (lasing threshold), sehingga berkas laser yang dihasilkan cukup signifikan dengan umur pemakaian yang panjang.

Laser dapat beroprasi pada modus kontinu (continuous wave) dengan amplitudo keluaran konstan atau dalam bentuk pulsa. Laser pulsa dapat dihasilkan dengan teknik Q-switching, mode terkunci (modelocking) atau gain switching. Laser dalam bentuk pulsa dapat menghasilkan daya yang sangat besar. Dalam mode operasi kontinu, berkas laser yang dihasilkan relatif konstan terhadap waktu. Proses tersebut dihasilkan dari populasi inversi yang berlangsung terus-menerus menggunakan sumber pemompa energi yang stabil. Sedangkan dalam mode operasi pulsa, berkas laser yang dihasilkan berubah terhadap waktu secara bolak-balik dengan mode on dan off. Laser pulsa biasanya dibuat dengan tujuan untuk menghasilkan power laser yang sangat besar dengan waktu radiasi yang singkat.

Sumber : Prinsip Dasar Laser Polimer Hibrid, Unpad Press

Dipublikasi di Artikel Fisika | 4 Komentar

Simulasi Pembentukan Celah Pita Fotonik pada Model Kristal 2D

Simulasi merupakan salah satu upaya penelusuran terhadap karakteristik suatu objek penelitian sebelum dilakukannya eksperimen. Simulasi sangat berguna dalam memandu kegiatan eksperimen. Hasil simulasi dapat dijadikan sebagai petunjuk awal untuk eksperimen, sehingga unsur coba-coba yang memakan banyak waktu dan biaya dapat ditekan. Oleh sebab itulah penelitian simulasi mengalami perkembangan yang sangat pesat sejak beberapa tahun kebelakan. Perkembangan tersebut ditunjang juga oleh kemajuan dalam teknologi komputer, sehingga simulasi dapat dilakukan untuk memecahkan kasus-kasus yang semakin komplek.

Dalam bidang fotonik, kami telah melakukan beberapa kajian simulasi diantaranya adalah simulasi pembentukan celah pita fotonik pada model kristal 2D. Keberadaan celah pita fotonik merupakan karaktersitik dasar dari suatu divais optik yang berbasis kristal fotonik. Dalam penelitian ini kami telah melakukan perhitungan photonic bandgap (PBG) untuk kristal fotonik 2D yang berbentuk rongga silinder dalam bahan dielektrik dan silinder dielektrik dengan latar udara menggunakan metoda ekspansi gelombang bidang. Model struktur kisi yang diuji terdiri dari kisi segiempat dan kisi segienam. Simulasi dilakukan untuk dua modus perambatan gelombang yaitu modus TE (transverse electric) dan modus TM (transverse magnetic). Validasi hasil perhitungan dilakukan dengan membandingkan hasil pemodelan dari Joannopoulos J.D., et al. (1995). Berdasarkan hasil pengujian diperoleh bahwa untuk kasus rongga silinder dalam bahan dielektrik, celah pita yang cukup lebar (>10%) terjadi pada struktur kisi segienam dengan modus TE. Sedangkan untuk kasus silinder dielektrik, celah pita fotonik terjadi pada modus TM baik untuk kisi segiempat ataupun segienam. Untuk lebih lengkapnya dapat dibaca pada artikel berikut ini: S. Hidayat, Jurnal Bionatura Vol 11 No 3 Nov 2009.

Sumber : Jurnal Bionatura Vol 11 No 3 Nov 2009

Dipublikasi di Artikel Fisika | Tag , | Meninggalkan komentar

LED Berbahan dasar Polimer Organik

Light emitting diode (LED) atau dioda penghasil cahaya adalah suatu divais semikonduktor yang memancarkan cahaya jika diberi tegangan maju. LED mempunyai keistimewaan dibandingkan lampu pijar biasa yaitu dari konsumsi energi yang lebih rendah dan tidak mengemisikan panas. Pada awalnya LED terbuat dari bahan-bahan semikonduktor anorganik seperti silikon, germanium, gallium arsenide, dan lain-lain. Berkat kemajuan dalam teknologi bahan, belakangan dikembangkan juga LED dari bahan semikonduktor organik seperti dari bahan polimer terkonjugasi atau dari bahan-bahan organik terkonjugasi lainnya.

Untuk menjembatani kejomplangan ilmu dan teknologi dibandingkan negara maju, kami mencoba melakukan penelitian kecil-kecilan dengan membuat divais LED dari bahan organik terkonjugasi MEH-PPV (poly[2–methoxy–5-(2 ethylhexyloxy) –1,4-phenylenevinylene]). Dalam penelitian ini, telah coba dilakukan peningkatkan kualitas kinerja LED dari bahan organik dengan melakukan optimasi parameter fabrikasinya. Fabrikasi film tipis MEH-PPV dilakukan dengan teknik spin coating dan menggunakan dua jenis pelarut yaitu toluen dan THF (tetrahidro furran). Untuk mengetahui kualitas film dan panjang gelombang emisinya, selanjutnya dilakukan pengukuran spektroskopi UV-Vis. Pengujian kualitas kinerja LED dilakukan dengan pengukuran kurva karakteristik I-V. Berdasarkan hasil pengukuran spektroskopi UV-Vis, panjang gelombang emisi rata-rata berada pada kisaran 600 nm yang bertepatan dengan emisi warna jingga. Hasil pengujian kinerja devasi LED dengan konfigurasi ITO/MEH-PPV/Al, memperlihatkan kinerja yang cukup baik. Kualitas kinerja terbaik LED diperoleh pada devais yang menggunakan film MEH-PPV yang difabrikasi dengan pelarut THF pada konsentrasi (w/w) 0,5%. Tegangan operasional rata-ratanya adalah 2,6 Volt dengan warna emisi jingga.

Sumber :  S. Hidayat, Bionatura Vol 10 No 1 Maret 2008

Dipublikasi di Artikel Fisika | Tag , | 2 Komentar

Latihan Soal SMUP Unpad 2010

Sejak awal februari lalu, Unpad kembali membuka pendaftaran jalur masuk lewat seleksi mandiri unpad untuk jenjang S1. Pendaftaran SMUP pada tahun ini menurut informasi dari situs smup.unpad.ac.id dilakukan full secara online. Hal ini berbeda dengan tahun lalu yang masih menyediakan fasilitas pendaftaran lewat offline. Untuk informasi lengkap mengenai pendaftaran SMUP 2010 dapat dilihat pada situs di atas.

Bagi para siswa SMA yang berminat untuk masuk unpad lewat jalur SMUP alangkah baiknya jika sejak awal menyiapkan diri berlatih soal-soal ujian SMUP tahun lalu, sebagai gambaran untuk ujian tahun ini. Untuk yang berminat mendapatkan soal-soal latihan smup dapat di download dari link di bawah ini.
1. Latihan Soal TKB SMUP 2010
2. Latihan Soal Bahasa Indonesia
3. Latihan Soal Bahasa Inggris
4. Latihan Soal Matematika Dasar
Sumber (http://onlinelesson.eu)
Untuk mendownload latihan soal lengkap dari tahun 2006 sampai 2009 dapat di klik disini

Dipublikasi di Berita | Tag , | Meninggalkan komentar

Karakteristik Batere Berbahan dasar Polianilin

Tulisan ini merupakan hasil penelitian yang kami dilakukan pada sekitar tahun 2000-an. Kami melakukan kajian terhadap karakteristik batere berbahan dasar polimer dalam hal ini polianilin. Polianilin merupakan salah satu polimer konduktif yang proses sintesisnya relatif mudah dan kami telah berhasil melakukan itu di lab Fisika Material Jurusan Fisika FMIPA Unpad.  Polimer dapat dikelompokan sebagai polimer konduktif jika memiliki ikatan karbon rangkap dan tunggal yang berselang-seling. Ikatan yang berselang seling tersebut memungkinkan terjadinya propagasi elektron sepanjang rantai polimer, dan selanjutnya menyebabkan bahan tersebut dapat mengalirkan arus listrik. Polianilin dapat mengalami reaksi redoks (reduksi-oksidasi) secara reversibel, oleh karena itulah polianilin pada masa itu diprediksi dapat menjadi kandidat sebagai bahan elektroda batere yang dapat diisi ulang.

Pada penelitian kami, dilakukan kajian terhadap model batere polianilin dengan dua macam elektrolit, yaitu elektrolit cair dan elektrolit padat. Hasil pengujian kami mendapatkan data bahwa, model batere cair memiliki tegangan operasional berkisar antara 1,65 volt sampai 3 volt dan model batere padat berkisar antara 1,5 volt sampai 3 volt. Efisiensi Coulomb model batere cair pada kapasitas pengisian optimal 10,4 Ah/kg adalah 78,3%, sedangkan model batere padat pada kapasitas pengisian optimalnya 5,2 Ah/kg memiliki efisiensi Coulomb 60%. Setelah mengalami 20 kali siklus pengisian-pengosongan, efisiensi Coulomb model batere cair turun dari 80,6% menjadi 47,8%, sedangkan model batere padat turun dari 72,2% menjadi 65,6%. Tampak bahwa model batere padat lebih tahan terhadap perulangan proses pengisian dibanding batere cair. Tentu semakin banyak jumlah proses pengisian-pengosongan kinerja batere akan semakin menurun, hal ini dapat dilihat dari trend grafiknya. Oleh karena itu selanjutnya kami melakukan kajian terhadap rendahnya kinerja batere tersebut, yang kami posting dalam tulisan yang lain.

Sumber : Jurnal Kontribusi Fisika Indonesia, Sahrul Hidayat, Juli 2002

Dipublikasi di Artikel Fisika | Tag , | Meninggalkan komentar