Apa yang dimaksud dengan Fuel-cell ?

Fuel Cell adalah divais elektrokima yang dapat mengkonversi energi kimia menjadi energi listrik secara terus-menerus selama suplai bahan bakar diberikan. Berdasarkan jenis elektrolitnya fuel cell dikelompokan menjadi lima jenis, yaitu polymer electrolyte fuel cell (PEFC), alkaline fuel cell (AFC), phosphoric fuel cell (PAFC), molten carbonate fuel cell (MCFC), dan solid oxide fuel cell (SOFC). PEFC sendiri terdiri dari dua jenis, yaitu yang berbahan bakar hidrogen dinamakan PEMFC (Proton Exchange Membran Fuel Cell) dan yang berbahan bakar metanol disebut DMFC (Direct Methanol Fuel Cell). PEMFC memiliki beberapa keunggulan dibandingkan jenis lainnya, yaitu suhu operasinya lebih rendah (40°C-80°C), densitas dan efisiensi energinya lebih tinggi, serta dapat dibuat dalam bentuk yang lebih kompak dan portable.

Fuelcell jenis PEMFC memiliki efisiensi konversi energi yang tinggi (40% – 70%), tidak menimbulkan efek getaran pada saat beroperasi, dan tidak menimbulkan emisi gas rumah kaca. Karena keunggulan tersebut, PEMFC sangat potensial untuk diaplikasikan dalam teknologi transfortasi dan sumber listrik perumahan pada rumah mandiri energi. PEMFC sangat cocok dikombinasikan dengan pembangkit listrik ramah lingkungan lainnya seperti solar sel atau pembangkit listrik tenaga angin. PEMFC dapat berfungsi sebagai penyimpan energi atau baterai jika dikombinasikan dengan sumber pembangkit energi terbarukan lainnya. Selain itu, PEMFC juga dapat digunakan sebagai pembangkit energi listrik tersendiri dengan memakai bahan bakar hidrogen. Dengan demikian, PEMFC sangat menguntungkan jika digunakan sebagai sumber energi listrik pada beragam kebutuhan karena sangat fleksibel dan kompak.

Secara umum, PEMFC terdiri dari beberapa komponen utama, yaitu MEA (Membrane Electrode Assembly) yang berfungsi sebagai penukar ion, anoda dan katoda yang berfungsi sebagai katalis serta media difusi gas, dan bipolar plate yang berfungsi sebagai interface antara bahan bakar dengan membran. Secara umum komponen penyusun PEMFC diperlihatkan pada gambar di bawah. Jantung utama dari PEMFC adalah MEA (Membrane Electrode Assembly) yang berfungsi sebagai media transfer proton dari anoda ke katoda. MEA terbuat dari membran polimer yang memiliki gugus sulfonik sehingga dapat berfungsi sebagai media transfer proton. Pada generasi awal PEMFC, MEA terbuat dari bahan phenol-formaldehyde sulfonic acid dan sulfonated polystyrene. Kualitas PEMFC generasi awal tersebut belum bagus, karena efisiensinya masih rendah dan lifetime-nya hanya 200 jam. MEA generasi berikutnya dibuat dari bahan grafting styrene-divinylbenzene di dalam matrik fluorocarbon. Kualitas MEA mengalami peningkatan sehingga memiliki lifetime 500 jam, tetapi masih belum memadai untuk kebutuhan komersial. Pada saat ini MEA yang digunakan pada fuel cell komersial menggunakan bahan nafion yang diproduksi oleh DuPont Company yang memiliki lifetime sekitar 60.000 jam.

Gambar
Gambar Skematik komponen penyusun Fuelcell

 

Gambar
Contoh aplikasi fuelcell yang difungsikan sebagai penyimpan energi dari pembangkit listrik solar panel
(Gambar dicuplik dari artikel: Hydrogen Solar Fuelcell The University of Western Australia)

Dipublikasi di Berita | Meninggalkan komentar

Efisiensi Energi dengan Jaringan Listrik DC

Dalam menghadapi masalah energi, disamping mencari sumber energi baru, hal yang paling mudah dilakukan adalah melakukan efisiensi penggunaan energi. Untuk keperluan penerangan misalnya digunakan lampu hemat energi, juga melakukan pembatasan penggunaan peralatan listrik.

Selain itu, dalam usaha efisiensi penggunaan energi juga dapat dilakukan melalui modifikasi jaringan instalasi listrik. Seperti yang kita ketahui sebagian besar peralatan elektronik bekerja pada sistem DC (direct current). Konversi listrik AC ke DC berkisar 50-80%, sedangkan peralatan yang digunakan kebanyakan bekerja pada sistem DC, sehingga ada pemborosan energi antara 20-50% dalam penggunaan peralatan elektronik DC pada jaringan listrik AC (alternating current) .

Beberapa data efisiensi konversi listrik AC ke DC antara lain dengan metode linier menggunakan dioda bridge, efisiensi maksimum sebesar 50%. Efisiensi menurun dengan naiknya suhu. Selain itu, dengan metode switching dengan frekuensi 60 KHz, efisiensi maksimum 75%. Efisiensi menurun dengan naiknya suhu. Jika digunakan metode switching dengan frekuensi 100 KHz, efisiensi maksimum 80%. Efisiensi menurun dengan naiknya suhu. Apabila digunakan metode switching dengan frekuensi > 100KHz dapat mencapai efisiensi maksimum 90%, tetapi frekuensi tersebut belum tersedia sebagai produk komersial.

Di lain pihak, komponen elektronika, seperti charger HP, radio/tape, TV, DVD, dan lain-lain, umumnya mengunakan metode konversi linier yang sangat tidak efisien. Pemborosan energi listrik pada operasional peralatan tersebut mencapai 50%. Pada sistem penerangkan pun demikian. lampu pijar memiliki efisiensi konversi hanya 10%, lampu CFL memiliki efisiensi konversi mencapai 75%, dan lampu SSL memiliki efisiensi konversi mencapai 90%. Untuk lampu CFL dan SSL walaupun memiliki efisiensi konversi tinggi tapi bekerja pada sistem DC, sehingga jika dipasang pada jaringan listrik AC harus menggunakan konverter AC-DC. Konverter AC-DC memiliki efisiensi bervariasi antara 50%-80%, sehingga pemakaian lampu CFL atau SSL pada jaringan AC masih memiliki tingkat kebocoran listrik tinggi. Ketidakefisienan penggunaan listrik lampu CFL atau SSL dalam sistem jaringan listrik AC dapat mencapai 20%-50%.

Efisiensi penggunaan energi listrik pada peralatan elektronik dan penerangan dapat ditekan jika menggunakan jaringan listrik DC. Oleh sebab itu perlu digagas pembuatan rumah DC atau rumah dengan jaringan listrik DC terutama untuk pemenuhan kebutuhan listrik bagi masyarakat terpencil yang belum terjangkau PLN. Prototipe rumah DC sebagai rumah mandiri energi tersebut, diharapkan menjadi model yang dapat digunakan oleh Pemerintah untuk memenuhi kebutuhan listrik atau penerangan bagi penduduk yang tinggal di daerah terpencil dan belum terjangkau PLN.

Dipublikasi di Berita | Tag , | Meninggalkan komentar

Aplikasi Teknologi Kristal Fotonik untuk Biosensor Optik

Biosensor merupakan salah satu perangkat uji yang sangat dibutuhkan pada bidang kedokteran, teknologi pengolahan makanan, industri pertanian, perikanan, peternakan, dan lingkungan. Kehadiran biosensor optik diharapkan dapat menggantikan peran biosensor konvensional yang berbasis elektronik atau impedansi yang memiliki sensitivitas rendah dan rentan terhadap gangguan. Biosensor optik memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan biosensor elektronik diantaranya adalah sinyal gangguan rendah karena tidak dipengaruhi oleh interferensi gelombang elektromagnetik, memiliki sensitivitas tinggi, mampu mendeteksi beragam molekul dengan satu divais, analisa lebih sederhana, dan biaya operasional lebih murah (Zhang, W., et al., 2008).

Pada saat ini, biosensor optik yang ada dipasaran pada umumnya menggunakan sistem surface plasmon resonan (SPR) yang telah diketahui memiliki sensitivitas tinggi untuk mendeteksi lapisan molekul yang tipis. Biosensor berbasis SPR memiliki detection limit (DL) sekitar 10-6 RIU (refractive index unit) untuk lapisan setebal kira-kira 1 pg mm-2. Biosensor sistem SPR tidak dapat digunakan untuk lapisan molekul yang tebal, karena sensornya berbasis gelombang evanescent yang memiliki daya tembus rendah. Dengan demikian biosensor jenis ini tidak dapat digunakan untuk mendeteksi sel atau bakteri, karena daya tembus gelombang evanescent hanya sekitar 100 nm. Selain itu, teknik fabrikasi biosensor dengan sistem SPR juga sangat mahal, karena membutuhkan lapisan logam pada permukaan prisma dengan ketebalan berkisar 50 nm. Pembuatan lapisan logam dalam ukuran nano tentu membutuhkan peralatan teknik deposisi khusus yang tidak sederhana. (Fan X., et al., 2008; Mandal, S., et al., 2009).

Alternatif lain dari biosensor optik adalah menggunakan basis kristal fotonik. Kristal fotonik adalah susunan periodik dari bahan dielektrik di dalam satu, dua, atau tiga arah periodisitas. Akibat adanya struktur geometri yang periodik, gelombang cahaya pada frekuensi dan arah tertentu tidak bisa tembus ke dalam kristal. Penomena fisis tersebut selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk mengkonsentrasikan cahaya pada posisi tertentu di dalam kristal, sehingga diperoleh densitas cahaya dengan intensitas yang tinggi. Posisi dari konsentrasi cahaya dapat dikontrol dengan menambahkan cacat (defect) pada posisi-posisi tertentu yang diinginkan (Hidayat, S., dkk., Bionatura Nov 2009; Sahrul Hidayat, Unpad press, 2009).

Pada saat diaplikasikan sebagai biosensor, kristal fotonik akan mengalami kontak langsung dengan molekul yang akan dideteksi, sehingga kopel cahaya di dalam kristal fotonik akan terganggu. Gangguan tersebut akan menimbulkan pemantulan atau hamburan yang selanjutnya dapat dideteksi dan dianalisa sebagai informasi. Prinsip kerja biosensor kristal fotonik dapat dianalogikan seperti proses yang terjadi pada scanner foto, dimana proses deteksi dapat dilakukan dibeberapa posisi sekaligus dengan cara mengontrol posisi cacat. Dengan demikian biosensor berbasis kristal fotonik memiliki keunggulan lain yaitu dapat mendeteksi beragam jenis molekul dengan satu divais. Selain itu, dapat juga digunakan untuk mendeteksi beragam ukuran biomolekul dari yang kecil sampai yang besar seperti virus, bakteri, protein, dan sel (Huang, M., et al., 2009; Goddard, J., M., et al., 2010).

Biosensor optik merupakan sensor generasi baru yang banyak menarik perhatian para peneliti pada saat ini. Di dalam penelitian sensor generasi baru, ada beberapa aspek penting yang menjadi bahan pertimbangan yaitu, terdapatnya peningkatan/perbaikan sinyal informasi atau adanya penurunan sinyal gangguan/noise, preparasi sampel menjadi lebih mudah, operasional pengukuran menjadi lebih sederhana, adanya penurunan dalam jumlah sampel yang dibutuhkan, atau waktu operasional menjadi lebih singkat. Berdasarkan hasil kajian literatur, diperoleh informasi bahwa biosensor optik memiliki kelebihan hampir pada semua aspek yang disebutkan di atas jika dibandingkan dengan biosensor konvensional yang menggunakan prinsip perubahan impedansi. Dengan demikian biosensor optik sangat potensial untuk terus dikembangan sehingga dapat menggantikan biosensor konvensional yang memiliki banyak keterbatasan.

Secara umum terdapat dua jenis protokol pendeteksi biosensor optik, yaitu pendeteksi berbasis fluorescence dan pendeteksi label-free. Di dalam pendeteksi berbasis fluorescence, target biomolekul berinteraksi kuat dengan suatu bahan fluorescence tertentu, misalnya dye, sehingga munculnya intensitas fluorescence akan mengindikasikan kehadiran biomolekul target. Proses pendeteksian metode ini lebih repot, karena biomolekul target harus dimodifikasi terlebih dahulu supaya dapat berinteraksi kuat dengan bahan fluorescence tertentu. Di samping itu, protokol pendeteksi jenis ini hanya terbatas pada satu biomolekul tertentu saja (Momeni, B., et al., 2009; Fan X., et al., 2008).

Sedangkan untuk protokol pendeteksi label-free, biomolekul target tidak ditandai secara khusus dan proses pendeteksian dilakukan secara alamiah tanpa ada modifikasi tertentu pada biomolekul target. Metode pendeteksian yang umum digunakan pada protokol jenis ini adalah RI (refractive index detection), OA (optical absorption detection), dan RS (raman spectroscopic detection).

Di dalam penelitian yang kami lakukan, protokol pendeteksi yang digunakan adalah LE (lasing emission detection) dari bahan polimer hibrid yang dimodifikasi dengan dye-laser. Di dalam sistem biosensor jenis ini, emisi lasing akan dibangkitkan dari mikro-resonator yang berbasis kristal fotonik 1D (Sahrul Hidayat, Unpad press, 2009). Panjang gelombang dan intensitas lasing akan mengalami pergeseran apabila permukaan resonator diberi gangguan berupa biomolekul. Berdasarkan prinsip tersebut, perubahan karakteristik lasing akan diidentifikasi sebagai kehadiran biomolekul tertentu. Skematik biosensor yang dirancang dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:



Dipublikasi di Artikel Fisika | Tag , , | Meninggalkan komentar

Peluang Penelitian Dalam Bidang Teknologi Optik

Kebutuhan akan teknologi komunikasi dewasa ini berkembang begitu cepat. Hal tersebut telah mendorong untuk tersedianya perangkat-perangkat komunikasi yang mampu mentransfer data dengan volume besar dan kecepatan tinggi. Transistor elektronik, sebagai basis dari perangkat-perangkat elektronik mempunyai keterbatasan fisik untuk peningkatan bandwidth dan kecepatan. Sehingga diperkirakan dalam satu atau dua dekade kedepan akan mengalami stagnasi [Joannopoulos, J.D, et al. (1995)]. Untuk mengatasi hal tersebut, teknologi optik merupakan alternatif jalan keluar. Sinyal optik mampu mentransfer data dengan volume lebih besar dan kecepatan lebih tinggi dibanding sinyal elektronik. Keberhasilan dalam teknologi fiber optik telah terbukti dapat merevolusi teknologi komunikasi, walaupun dalam teknologi pengolahan dan distribusi data masih berbasis sinyal elektronik. Pengembangan selanjutnya adalah mewujudkan all optical integrated signal processing, sehingga pengolahan sinyal akan jauh lebih cepat dibandingkan dengan pengolahan sinyal yang berbasis elektronik. Harapan tersebut dapat dicapai, jika dapat menguasai teknologi kristal fotonik yang merupakan basis dari teknologi divais optik.

Selain itu, teknologi komputer juga berkembang sangat cepat, setiap tahun diperkirakan jumlah komponen elektronik dalam suatu microchip akan menjadi dua kali lipat untuk meningkatkan kecepatan komputer menjadi duakalinya. Gordon Moore dari intel pada tahun 1960 memperkirakan bahwa peningkatan kecepatan komputer akan mengalami batas maksimal dalam beberapa tahun ke depan. Peningkatan kecepatan komputer dengan teknologi elektronik tidak akan mampu melebihi 10 GHz. Dilain pihak para peneliti memprediksi bahwa kecepatan komputer dapat mencapai beberapa ratus terahertz jika basis teknologi menggunakan sinyal optik. Peningkatan kecepatan tersebut dapat dilakukan jika prosesor elektronik diganti dengan prosesor optik yang terdiri dari komponen-komponen optik yang dibuat dari kristal fotonik [Greg Parker G and Charlton M , physicsworld (2000)].

Kristal fotonik merupakan bahan optik baru yang memiliki karakteristik unik, yaitu dapat memanipulasi pergerakan cahaya seperti halnya kristal zat padat mempengaruhi penjalaran berkas elektron. Di dalam kristal zat padat, periodisitas potensial dapat menyebabkan munculnya energi gap, dimana berkas elektron yang memiliki frekuensi tertentu tidak bisa berada di dalam kristal tersebut. Hal serupa terjadi di dalam kristal fotonik, yang merupakan susunan material dielektrik dengan indeks bias berbeda dan berulang secara periodik. Di dalam struktur kristal fotonik akan muncul bandgap optik. Keberadaan bandgap optik akan mempengaruhi karakteristik penjalaran cahaya di dalam kristal. Cahaya yang memiliki arah dan frekuensi tertentu yang sesuai bandgap, tidak dapat melewati struktur kristal fotonik. Selanjutnya, dengan menambahkan rekayasa cacat di dalam kristal, dapat dilakukan kontrol terhadap sifat-sifat penjalaran cahaya. Dengan kemampuan tersebut, kristal fotonik memiliki potensi aplikasi yang luas meliputi aplikasi pada bidang optik linier, optik nonlinier, dan optik kuantum. Sebagai contoh, dalam bidang optik linier dapat diaplikasikan sebagai mikro-kavitas, pandu gelombang, filter optik, dan kombinasinya. Dengan mensubstitusikan bahan nonlinier dan bahan kuantum dot ke dalam kristal fotonik, maka dapat direkayasa beragam jenis divais optik sebagai tiruan dari divais elektronik seperti yang telah dikenal saat ini. Dengan demikian penguasaan teknologi rekayasa kristal fotonik adalah hal yang penting karena merupakan basis dari beragam aplikasi teknologi masa mendatang.

Kunci keberhasilan dari pengembangan divais optik adalah penguasaan dalam teknologi fabrikasi struktur mikro kristal fotonik. Berbagai jenis material telah banyak diteliti untuk diaplikasikan sebagai bahan kristal fotonik. Secara umum bahan yang diaplikasikan sebagai material kristal fotonik dikelompokan menjadi tiga jenis, yaitu bahan anorganik, bahan organik, dan bahan hibrid. Bahan anorganik seperti Galium Nitrid, Galium Arsenat, Galium Posfat, Indium Posfat, Alumina, Silikon, dan lainnya memiliki keunggulan karena indeks biasnya yang tinggi. Kontras indeks bias yang besar dibutuhkan untuk menghasilkan daerah frekuensi gap yang lebar. Penelitian kristal fotonik dari bahan anorganik dapat dikatakan telah berhasil untuk aplikasi pada beberapa divais optik, seperti laser dan pandu gelombang [Rafael Herrmann, et al. (2006), J. Sweet, et al. (2010), Jose Pozo, et al. (2008), Min Qiu, et al. (2002)].

Berdasarkan hasil kajian dari sejumlah paper, bahan anorganik memiliki beberapa kelemahan pada saat diaplikasikan sebagai material kristal fotonik. Kelemahan tersebut diantaranya adalah fleksibilitasnya rendah, sulit dicampur dengan bahan fungsional, dan proses fabrikasinya mahal [S. Hidayat, at al. (2011)]. Sebagai alternatif jalan keluar, beberapa peneliti telah mengkaji potensi yang dimiliki bahan organik untuk diaplikasikan sebagai material kristal fotonik. Bahan organik yang banyak diteliti untuk aplikasi tersebut diantaranya adalah polimetil metakrilat (PMMA), polipara phenilen vinilen (PPV), dan Poly ethylene-terephtalate (PET). Polimer PMMA telah dilaporkan dapat digunakan sebagai material kristal fotonik dengan teknik fabrikasi electron-beam lithography [Daniela Dragoman, (2009)]. Polimer PPV dapat digunakan sebagai meterial kristal fotonik dengan teknik fabrikasi microcontact molding [Justin R. Lawrence (2003)]. Sedangkan polimer PET telah dilaporkan dapat digunakan sebagai material kristal fotonik dengan teknik fabrikasi laser embossing [S. Riechel (2002)]. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, bahan organik memiliki keunggulan dalam proses sintesis dan fabrikasinya yang sederhana dan memiliki kemudahan untuk dikombinasikan dengan bahan fungsional lain. Disamping keunggulan tersebut, bahan organik masih memiliki kendala untuk diaplikasikan sebagai bahan divais optik karena memiliki sifat mekanik dan optik yang kurang baik. Bahan organik tidak tahan terhadap suhu tinggi dan tingkat transparansinya rendah, sehingga rentan terhadap perubahan dimensi dan memiliki kehilangan daya optik yang tinggi.

Alternatif jalan keluarnya adalah menggunakan bahan hibrid yang merupakan kombinasi dari bahan organik dan anorganik dalam satu molekul. Bahan hibrid diharapkan memiliki sifat-sifat unggul yang berasal dari bahan organik dan anorganik. Komponen pembentuk bahan hibrid umumnya terdiri dari tiga jenis bahan yang sudah banyak dimanfaatkan dalam beragam aplikasi, yaitu silikon, polimer organik, dan keramik. Silikon memiliki sifat elastik, resistan terhadap senyawa kimia atau oksidan, dan stabil terhadap suhu tinggi. Silikon banyak dipakai di dalam bidang medis, khususnya dalam teknologi bedah plastik. Selain itu, karena tahan terhadap suhu tinggi, silikon banyak juga diaplikasikan sebagai bahan perekat dan gasket pada peralatan yang bekerja pada suhu tinggi. Polimer organik memiliki sifat kuat atau tidak mudah patah, sangat fungsional untuk berbagai jenis aplikasi teknologi, dan mudah dalam proses fabrikasinya. Aplikasi polimer organik sangat luas, dari mulai peralatan rumah tangga sampai peralatan teknologi canggih. Selain itu polimer organik memiliki peranan penting dalam teknologi pengemasan khususnya untuk pengemasan berbagai peralatan elektronik. Keramik memiliki sifat yang kuat, stabil terhadap pengaruh suhu dan zat kimia, serta bersifat transparan. Keramik banyak diaplikasikan untuk peralatan rumah tangga khususnya tempat-tempat makanan, kaca jendela, penyekat, dan banyak lagi aplikasi lainnya. Kombinasi dari ketiga bahan tersebut diharapkan akan memiliki sifat-sifat unggul seperti komponen penyusunnya.

Berdasarkan hasil kajian dari sejumlah paper seperti diungkapkan di atas, terdapat peluang penelitian yang masih terus dikembangan yaitu aplikasi bahan hibrid pada beragam jenis divais optik. Penelitian yang sedang dicoba di Lab Fisika Material Jurusan Fisika FMIPA UNPAD adalah aplikasi polimer hibrid untuk divais laser. Laser merupakan salah satu perangkat utama yang akan menentukan keberhasilan transformasi teknologi dari elektronik menjadi optik. Divais laser merupakan komponen utama dalam komunikasi optik karena berfungsi sebagai pembawa sinyal informasi.

Pada awal perkembangannya, divais laser merupakan perangkat optik yang besar, karena sistem penguatannya menggunakan sistem Fabry Parrot, yaitu menggunakan sepasang cermin sejajar. Pada saat ini divais laser dapat dibuat dalam dimensi yang sangat kecil, karena sistem penguatan laser tidak lagi menggunakan cermin sejajar tetapi diganti dengan sistem penguatan berbasis kristal fotonik. Di dalam sistem penguatan berbasis kristal fotonik, pemantulan berkas cahaya dilakukan dengan metode pemantulan Bragg oleh kisi-kisi kristal. Dengan demikian ukuran divais laser dapat direduksi menjadi hanya beberapa milimeter atau mikrometer saja.

Keberhasilan fabrikasi divais laser dalam ukuran mikro merupakan langkah awal untuk terwujudnya divais optik terintegrasi. Divais optik terintegrasi merupakan kumpulan dari beberapa komponen optik yang dirangkai dan didesain untuk suatu fungsi tertentu. Komponen optik tersebut dapat berupa coupler, modulator, demodulator, saklar optik, laser, fotodetektor, dan lain-lain. Komponen-komponen tersebut difabrikasi di dalam satu papan dan dihubungkan satu sama lainnya dengan divais pandu gelombang. Dengan demikian, untuk dapat diaplikasikan di dalam divais optik terintegrasi, laser harus dibuat dalam bentuk planar, sehingga integrasi dengan komponen optik lain dapat dilakukan.

Dipublikasi di Artikel Fisika | Meninggalkan komentar

Latihan Soal SMUP Unpad 2011

Bagi para siswa SMA yang berminat untuk masuk unpad lewat jalur SMUP alangkah baiknya jika sejak awal menyiapkan diri berlatih soal-soal ujian SMUP tahun lalu, sebagai gambaran untuk ujian tahun ini. Untuk yang berminat mendapatkan soal-soal latihan smup dapat di download dari link di bawah ini.
1. Latihan Soal TKB SMUP 2010
2. Latihan Soal Bahasa Indonesia
3. Latihan Soal Bahasa Inggris
4. Latihan Soal Matematika Dasar
Sumber (http://onlinelesson.eu)
Untuk mendownload latihan soal lengkap dari tahun 2006 sampai 2009 dapat di klik disini

Download soal dan pembahasan SMUP UNPAD 2010 (download)

Download prediksi/latihan soal SMUP UNPAD 2011 (download)

Dipublikasi di Berita | Tag | 1 Komentar

Download Buku Fisika

Ini sekedar berbagi info aja buat rekan-rekan yang senang berburu buku elektronik. Sebenarnya, jika rajin mencari ada banyak buku di luar sana yang bisa kita download, tapi bagi tidak sempat nyari, nih coba kami sharing beberapa buku yang terkait dengan bidang fisika. Silahkan kunjungi di
Perpustakaan Fisika Koleksi bukunya memang belum lengkap karena masih dalam proses upload, insyaAllah dalam waktu dekat akan bertambah. Ini beberapa contoh buku yang bisa di download:

1. Electricity and Magnetism

Buku ini terdiri dari 150 halaman yang terbagi dalam 3 bab. Buku Electricity and Magnetism merupakan buku Fisika Dasar yang membahas konsep dasar listrik, konsep dasar magnet, aplikasi listrik magnet pada bidang komputer. Buku ini sangat bagus karena fullcolor dan disajikan dalam bentuk yang menarik dan disertai contoh-contoh yang mudah dipahami. (Download Buku)

2. Waves, Sound and Light

Buku ini terdiri dari 186 halaman yang terbagi dalam 4 bab. Buku Waves, Sound and Light merupakan buku Fisika Dasar yang membahas gelombang dan sifat-sifatnya, konsep bunyi dan contohnya pada alat musik, konsep gelombang elektromagnetik, konsep cahaya, dan sifat penjalaran cahaya pada beberapa alat optik seperti lensa dan cermin. Buku ini sangat bagus karena fullcolor dan disajikan dalam bentuk yang menarik dan disertai contoh-contoh yang mudah dipahami. (Download Buku)

3. Physics Concepts and Connections (book 2)

Buku ini terdiri dari 816 halaman yang terbagi dalam 5 bab. Buku Physics Concepts and Connections (book 2) merupakan buku Fisika Dasar yang membahas gaya dan gerak, energi dan momentum, Energi listrik; gravitasi; dan magnet, konsep dasar gelombang dan cahaya, dan Bahan serta interaksinya dengan energi. Buku ini sangat bagus karena fullcolor dan disajikan dalam bentuk yang menarik dan disertai contoh-contoh yang mudah dipahami.
(Download Buku)

Dipublikasi di Berita | 4 Komentar

Penciptaan Alam Semesta

Selama berabad-abad, orang mencari jawaban untuk pertanyaan “bagaimana asal-usul alam semesta”. Beribu-ribu model alam semesta telah diajukan dan beribu-ribu teori telah dihasilkan di sepanjang sejarah. Namun tinjauan terhadap semua teori ini mengungkapkan bahwa pada intinya mereka hanya terbagi dalam dua model berbeda. Yang pertama adalah konsep alam semesta tak terbatas tanpa permulaan, yang tidak lagi memiliki dasar ilmiah apa pun. Yang kedua adalah bahwa alam semesta diciptakan dari ketiadaan, yang sekarang ini dikenal dalam masyarakat ilmiah sebagai “model standar”.

Model pertama, yang telah terbukti tak dapat bertahan, menyatakan bahwa alam semesta telah ada sejak waktu yang tak terbatas dan akan terus bertahan dalam keadaannya yang sekarang ini. Gagasan alam semesta tak terbatas ini telah berkembang sejak zaman Yunani kuno, dan telah menyebar ke dunia barat sebagai…..

Baca selengkapnya

Dipublikasi di Artikel Fisika | Meninggalkan komentar